Oleh: Saiful Hadi (*)
Banjir yang telah melanda berbagai wilayah di Sumatra menimbulkan dampak serius terhadap keberlangsungan hidup masyarakat, terutama terkait tempat tinggal. Ketika rumah permanen rusak atau tidak lagi aman dihuni, kebutuhan akan hunian sementara menjadi sangat mendesak. Namun hunian sementara tidak seharusnya dipahami hanya sebagai tempat berlindung darurat, melainkan sebagai ruang transisi yang memungkinkan keluarga terdampak menjalani kehidupan sehari-hari secara aman, sehat, dan bermartabat.
Dalam konteks bencana banjir, tantangan utama hunian sementara terletak pada kondisi lingkungan yang lembap, potensi genangan susulan, keterbatasan akses material, serta tuntutan pembangunan yang cepat. Oleh karena itu, desain hunian sementara harus dirancang secara adaptif, kontekstual, dan mudah diterapkan di lapangan.
Desain hunian sementara (huntara) mengutamakan kemudahan bongkar pasang (knockdown), kecepatan membangun, fleksibilitas, dan kenyamanan transisi, sering menggunakan sistem modular/prefab dengan material ringan seperti bambu atau baja LGS, serta desain tahan gempa seperti RISHA atau rumah modular, agar bisa dipakai jangka pendek hingga menengah (sekitar 10 tahun) sebelum hunian tetap dibangun, dengan mempertimbangkan standar minimal luas ruang dan antropometri.
Hunian Modular Berstruktur Kuat
Salah satu pendekatan desain yang relevan untuk wilayah terdampak banjir adalah hunian modular dengan struktur yang kuat dan tahan terhadap cuaca ekstrem. Pemanfaatan sistem modular memungkinkan proses pembangunan berlangsung lebih cepat karena elemen bangunan dapat diproduksi secara terstandar dan dirakit di lokasi. Struktur semacam ini juga memudahkan replikasi dalam jumlah besar, sehingga efektif digunakan pada kondisi darurat dengan kebutuhan hunian yang tinggi.
Hunian modular memberikan fleksibilitas dalam penataan ruang dan memungkinkan penyesuaian ukuran unit sesuai kebutuhan keluarga. Selain itu, sistem ini membuka peluang pengembangan hunian dari fungsi sementara menuju semi permanen tanpa harus membongkar keseluruhan struktur.


Konsep Rumah Panggung untuk Antisipasi Genangan
Pada wilayah rawan banjir, konsep rumah panggung menjadi pendekatan yang paling kontekstual dan terbukti adaptif. Hunian dirancang dengan lantai yang ditinggikan dari permukaan tanah guna menghindari genangan air dan menjaga ruang dalam tetap kering. Ketinggian lantai dapat disesuaikan dengan karakteristik banjir setempat, baik berdasarkan riwayat genangan maupun kondisi topografi.
Struktur rumah panggung dapat menggunakan rangka baja ringan, besi hollow, atau material kayu yang mudah diperoleh di wilayah setempat. Selain melindungi penghuni dari air, ruang kosong di bawah lantai juga berfungsi memperlancar aliran air serta mengurangi risiko kerusakan bangunan akibat kelembapan.


Fleksibilitas Denah dan Fungsi Ruang
Hunian sementara perlu memiliki denah yang sederhana dan fleksibel agar dapat menyesuaikan dengan kebutuhan keluarga yang beragam. Ruang dalam sebaiknya dirancang tanpa banyak sekat permanen sehingga dapat berfungsi ganda sebagai area tidur, berkumpul, maupun aktivitas domestik ringan. Fleksibilitas ini penting agar hunian tetap fungsional meskipun digunakan dalam jangka waktu yang tidak singkat.
Pendekatan denah terbuka juga memudahkan penyesuaian furnitur serta memungkinkan penghuni mengatur ruang sesuai kebiasaan dan budaya setempat, yang sering kali berbeda antara satu komunitas dengan komunitas lainnya.

Pemanfaatan Material Lokal dan Konstruksi Partisipatif
Penggunaan material lokal menjadi aspek penting dalam desain hunian sementara di Sumatra. Selain mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah, material yang familiar bagi masyarakat setempat memudahkan proses pembangunan dan perawatan. Dalam banyak kasus, keterlibatan warga terdampak dalam pembangunan hunian dapat mempercepat proses konstruksi sekaligus memberikan dampak positif secara sosial dan psikologis.
Konstruksi yang bersifat partisipatif juga memungkinkan desain hunian berkembang sesuai kebutuhan riil di lapangan, bukan semata-mata berdasarkan standar teknis yang kaku. Pendekatan ini memperkuat rasa memiliki dan membantu proses pemulihan komunitas pascabencana.
Ventilasi Alami dan Kenyamanan Iklim Tropis
Wilayah Sumatra memiliki iklim tropis yang panas dan lembap, sehingga aspek ventilasi dan pencahayaan alami tidak boleh diabaikan. Hunian sementara perlu dirancang dengan bukaan yang memadai untuk menciptakan sirkulasi udara silang, serta atap dengan overstek yang cukup untuk melindungi dari hujan dan panas berlebih.
Kenyamanan termal yang baik tidak hanya meningkatkan kualitas hidup penghuni, tetapi juga mengurangi risiko gangguan kesehatan yang kerap muncul di lingkungan hunian darurat dengan sirkulasi udara buruk.
Hunian Sementara sebagai Bagian dari Pemulihan Jangka Menengah
Hunian sementara yang dirancang dengan pendekatan matang seharusnya tidak diperlakukan sebagai bangunan sekali pakai. Dengan perencanaan yang tepat, hunian dapat dikembangkan menjadi bangunan semi permanen, dipindahkan ke lokasi lain, atau dimanfaatkan kembali sesuai kebutuhan. Pendekatan ini menjadikan hunian sementara lebih berkelanjutan dan efisien dari sisi sumber daya.
Desain hunian sementara untuk wilayah terdampak banjir di Sumatra bukan sekadar persoalan teknis pembangunan, tetapi juga bagian dari upaya kemanusiaan dan pemulihan kehidupan masyarakat. Hunian yang adaptif, kontekstual, dan partisipatif dapat menjadi langkah awal yang kuat untuk membantu masyarakat bangkit, menata ulang kehidupan, dan bergerak menuju masa depan yang lebih tangguh.
(*) ceo upsekil.com


