Richard Rogers Drawing Gallery: Struktur Kantilever Melayang di Alam

Di tengah hamparan hutan hijau Provence, Prancis, berdiri sebuah struktur yang tampak melayang dari tepi lereng, seolah menantang gravitasi. Itulah The Richard Rogers Drawing Gallery, sebuah bangunan kecil dengan makna besar, hasil rancangan akhir mendiang arsitek visioner Richard Rogers. Proyek ini tidak hanya menjadi ekspresi arsitektur kontemporer, tetapi juga unjuk kekuatan rekayasa struktur baja dalam harmoni dengan alam.

Dalam dunia teknik sipil dan arsitektur, struktur bangunan sering kali menjadi medan unjuk kreativitas dan kemampuan rekayasa. Salah satu contoh paling mencolok adalah struktur kantilever baja sepanjang 27 meter yang tampak melayang di udara — sebuah pencapaian teknik yang menantang logika namun kokoh secara struktural.

Konsep Desain: Struktur yang Menjadi Pernyataan

Dengan panjang bentang mencapai 27 meter tanpa penyangga vertikal di bawahnya, galeri ini adalah manifestasi dari prinsip desain Rogers: ringan, jujur terhadap struktur, dan merayakan keterbukaan. Bentuknya sederhana — sebuah kotak putih bersih — namun dikelilingi oleh struktur rangka baja oranye yang mencolok dan menjadi bagian tak terpisahkan dari estetika sekaligus fungsionalitasnya.

Truss baja eksternal yang ekspresif ini tidak hanya menjadi aksen visual, tetapi juga sistem utama penyalur beban yang memungkinkan kantilever dramatis tanpa merusak kontur alami situs.

Richard Rogers Drawing Gallery, sumber: https://www.archdaily.com/

Struktur Baja dan Sistem Truss

Struktur menggunakan rangka baja yang dirancang sebagai sistem truss menyeluruh. Ketinggian dan konfigurasi diagonal truss memberikan kekakuan yang dibutuhkan untuk menopang beban galeri, termasuk beban hidup, beban mati, serta gaya lateral dari angin. Semua ini dicapai tanpa tambahan kolom di ujung luar, menciptakan ruang bersih yang benar-benar terbuka dan ringan secara visual.

Kantilever ini berfungsi seperti lengan baja yang ditopang penuh oleh dinding belakang dan sistem sambungan baja ke fondasi beton yang tertanam pada lereng.

Gambar Detail, Richard Rogers Drawing Gallery, sumber: https://www.archdaily.com/

Fondasi sebagai Titik Tumpu

Seluruh beban galeri ditransfer melalui titik tumpu utama di ujung belakang bangunan. Di sinilah truss baja diikat kuat ke beton bertulang yang ditanam ke dalam lereng bukit. Fondasi ini menahan tidak hanya beban vertikal, tetapi juga momen puntir dan gaya angkat yang ditimbulkan oleh bentang kantilever. Hasilnya adalah ilusi bangunan ringan yang melayang, padahal tertambat dengan kuat ke bumi.

Sistem Struktur, Richard Rogers Drawing Gallery, sumber: https://www.archdaily.com/

Tantangan Teknik dan Solusi Elegan

Tantangan utama dari desain ini adalah mengendalikan defleksi dan gaya angkat pada bentang kantilever yang panjang. Struktur truss tinggi dan presisi sambungan menjadi kunci. Selain itu, proses konstruksi juga dirancang agar meminimalkan gangguan terhadap lanskap alami — komponen baja dirakit secara modular dan dibawa ke lokasi dengan gangguan minimum pada ekosistem sekitar.

Solusi ini menunjukkan keunggulan arsitektur dan teknik yang tidak hanya fokus pada bentuk, tetapi juga pada keberlanjutan dan kepekaan terhadap tapak.

Detail Gambar, Richard Rogers Drawing Gallery, sumber: https://www.archdaily.com/

Pengalaman Ruang dan Filosofi Desain

Di dalamnya, galeri ini menawarkan pemandangan tak terhalang ke lanskap hutan — seolah menjadi bingkai bagi alam itu sendiri. Tidak ada kolom atau struktur yang menghalangi garis pandang. Ini adalah ruang kontemplatif, tenang, dan terbuka, yang sepenuhnya selaras dengan semangat Richard Rogers dalam merancang arsitektur yang membebaskan ruang dan pikiran.

Sketsa Awal, Richard Rogers Drawing Gallery, sumber: https://www.archdaily.com/

Penutup

The Richard Rogers Drawing Gallery bukan hanya sebuah ruang seni. Ia adalah karya seni itu sendiri — perpaduan ideal antara teknik struktural dan ekspresi arsitektur. Melalui galeri kecil ini, Rogers menunjukkan bahwa kekuatan sejati desain terletak pada kejelasan struktur, keberanian bentuk, dan penghormatan terhadap lingkungan.

Sumber: https://www.archdaily.com/

Scroll to Top